Dering khas ringtone untuk Si Bos berbunyi, aku hanya memandang handphoneku saja dan melanjutkan mengetikku. Ini masih sangat pagi, baru jam 8 kurang 10 menit, ngapain juga telpon.
“Pagi-pagi kok lagunya slow to mas?”
“Iya dik,ntar ndak ganggu yang tidur” ,jawabku kepadanya diikuti senyum
“He3, iya ya.Udah sarapan mas?” lanjutnya
“Oh, tentu sudah, sarapan itu yang utama.Udah kamu bangun dulu sana, udah siang nich, buruan makan, itu udah ada bubur di meja makan”
“Siap Bos!!”
Kali ini sudah beda lagi alur ceritanya, si imut harus mulai berjalan di medan-medan yang sangat baru baginya.Tiba-tiba issue yang semakin “santer” menjadi topik hot di kampung tempat tinggalnya. Si imut hanya bisa menatap pasrah sambil terbahak-bahak melihat semua itu.
— dubidubidubae dubidubidubae —
Gelak tepuk tangan memenuhi hall itu, bengong, haru, sedih, seneng, syukur semua menjadi satu.Sejenak Si Imut terlihat melayang. :hiperbol bgt:
“Terima kasih, semoga paparan saya bisa bermanfaat bagi rekan-rekan, Dan yang terakhir, saya mohon maaf atas segala kata-kata dan tingkah laku yang kurang berkenan dihati rekan-rekan. Wassallam, kita ketemu lagi on the net“
applose lagi-lagi bergemuruh.
Solo I’m coming back …..
dan lalu rasa itu tak mungkin lagi kini tersimpan di hati
bawa aku pulang rindu bersamamu
hmmm …
dan lalu air mata tak mungkin lagi kini bicara tentang rasa
bawa aku pulang segera
jelajahi waktu ketempat bertemu hati kala biru
dan lalu sekitarku tak mungkin lagi meringankan lara
bawa aku pulang rindu segera
dan lalu oh langkahku tak lagi jauh kini memudar biruku
jangan lagi pulang jangan lagi datang
jangan lagi pulang pergi jauh
dan lalu dan lalu
lagi-lagi Float. Baru aj si imut kehilangan 1 yang sangat bersinar.
Layaknya anak-anak seumurannya,yang seharusnya masih sesuai dengan masanya untuk bermain-main.Tapi dimensi waktu ini berbeda, Tuhan memberikan kelas akselerasi buat Si Imut. Yihii, it’s good chance Mut.
Kadang merasa lelah tuk selalu tampil sempurna.
“Harapannya simple sih, buat adik aj” terlihat wajahnya masih sangat tenang, bahkan lebih tenang dari biasanya.
Sampai saat ini, yang bisa membaca dibalik wajahnya baru 1 orang. Ternyata ada gejolak yang sedang berdengup dengan begitu dahsyat didadanya.
Analogi sederhana : “Sekujur tubuhnya masih di tali dengan eratnya, dan dia hanya bisa berteriak-teriak melihat istrinya di perkosa oleh ke dua termannya yang keparat itu“.
***
“Oiii , jangan cuman bengong mulu.Cepatlah bekerja, sebelum dia terlambat MATI”.
Hatinya menangis tidak ketulungan, karena hanya dia memilih untuk diam.Kawan lamanya udah pergi entah kemana.
Episode yang lain :
“Mau kemana?”
“Cari udara segaar !”
Dia pun melaju ke jalan Solo. Di balik helm itu, teras itu, handphone itu, asap itu, hanyalah menjadi saksi bisu tanpa solusi.