Alarm pun berdering dengan asceding, keras dan semakin mengeras, membuatku harus meraih handphone di atas bantalku. Sudah pertanda pukul 05.00, masih malas sekali untuk beranjak dari tikar plastik yang sudah mulai rapuh serat-seratnya hancur. Terlihat dari balik genting kaca, sudah mulai terang.
“Salahe ra gelem turu neng kamar, malah turu neng jaba. Wes reti hawane anyem kyo ngene akeh nyamuk sisan, sih ngeyel!”
“Gen …!”, jawabku nylekit.
Kekamar mandi dan melakukan rukun-rukun yang istilahnya wudhu, diikuti semacam gerakan sholat subuh.
Lagi-lagi malas, tidak ada hasrat rasanya melakukan rutinitas kayak kemarin-kemarin. Itu pasti ada penyebabnya? Kenapa to ?
“Males, wes pokoke males banget!”
Apakah ini yang disebut melepas masa lajang? Haiah, sok banget sih lo ..
Terhitung 30 hari dari 10 Maret, banyak aku merasakan perubahan dari diriku. Doktrin-doktrin lingkungan ternyata banyak mengubah cara berfikirku. Exploitasi yang terjadi dimana-mana dan dalam waktu yang hampir bersamaan, saat hak dan kewajiban mulai tidak wajar, saat lingkungan mulai tidak nyaman, saat diktator-diktator mulai adigang-adigung- , wuih .. fenomenal banget pokokna. Gosokan lingkungan begitu keras, hingga membakarnya terlalu cepat.
Mulai hari ini, aku jadi “orang yang tidak nggenah” , itu penilain dari si-Mi yang tak pernah lelah (hdd seaged baracuda, fast and stronger). Nggak mau di suruh-suruh lagi. Mbolosan, tidak ontime, nggak pernah tanggap ponsel.Hidup kesana-sini tapi dengan tujuan yang jelas, banking, fam, school :hammer: . Masih terlalu jauh angan-angan itu. Jangan lihat sisi negatifnya aja dong, lihat juga sisi positifnya. Sekarang udah nggk sering ngerokok lagi lho, “gara-gara kamu lagi sakitkan? ntar klo udah sembuh mesti balik lagi” , haahahahaha …. “fyuhh , di bilangin orang tua masih ngeyel aj sih kamu.” “insyallah, bner-bner mengurangi J” “J”
Rolasan, saat itu mengagetkanku, “Ha kowe ki wes ra neng nggon sing sakmestine” “Yen aku nilaine ngunu sih”. Aku nggk percaya, “telaga” saja bisa bilang kaya gitu ;-( .
MUNGKIN kamu sudah mengenalku sebagai seorang teman, lebih tepatnya musuh. Dikondisi saat itu, akupun tau kamu baru tidak ingin bermusuhan lagi denganku, kamu nggk pengen berdebat panjang lagi denganku, kamu nggk mau lagi mendengarkan kata-kata kotor dari mulutku, kamu mungkin sedang tidak ingin menerima perlakuan kasarku lagi, kamu mungkin sedang tidak ingin melihat lagi tingkah bodohku untuk mengalahkanmu. Kondisi sulit ini, begitu merindukan hadirnya musuh sekejam dirimu untuk membohongi rasa sakit ini. Penuh kemungkinan itu hanyalah angan-angan. Serasa beberapa saat lagi kamu bakal berbalik mencintaiku seperti dirimu mencintai orang-orang disekitarmu.
Lebih baik menjadi musuhmu seumur hidup daripada menjadi orang-orang yang kau kasihi selevel dengan orang-orang lain.
Inggatkan? “Baru 1 yang bisa mengerti secara mendalam” Beberapa bulan kedepan, saat si-Mi bertambah bebannya. Ketika realita dan nurani yang harus mulai bicara panjang lebar. Saat itu, harus mulai mengenali lingkungan-lingkungan baru dalam hidupku. Saat itu mulailah aku untuk lebih dewasa lagi dan yang pasti lebih mandiri.
Nah, klo kemarin-kemarin ada suara, sekarng lebih terarah dengan tulisan. Namanya peningkatan atau penurunankah? “mboh”.
“Kapan kamu ada waktu luang? , tapi jangan meluangkan waktu loh ya” pertanyaanku sok kuat.
“…”
“Aku pengen berdebat lagi , ha3 …” sebelum dia menjawab lagi, aku tau dia nggk bakal bisa menyempatkan waktu untukku.
Intisari dari pelajaran kita sore ini adalah “ilmu memikat cewek” J wak wak wak wak :gulung-gulung: :”>.